Monday, July 6, 2026

Program Unggulan di Tengah Budaya Koruptif


Oleh  Harmen Batubara

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa (KopDes) di atas kertas mengusung tujuan yang sangat mulia. Keduanya dirancang sebagai program unggulan yang mendapatkan dukungan penuh serta legitimasi politik yang kuat dari pemerintah.

Dalam kacamata kebijakan publik, ada asumsi bahwa program skala besar seperti ini sengaja dioperasionalkan terlebih dahulu lewat jalur birokrasi yang ada. Tujuannya pragmatis: untuk memetakan titik sumbat (bottleneck) secara riil—apakah kelemahan mendasar terletak pada level administrasi birokrasi atau pada manajemen eksekusinya. Dengan begitu, pemerintah dapat melakukan evaluasi yang menyeluruh berbasis data lapangan.

Anomali Yang Tragis

Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan anomali yang tragis. Program MBG dan KopDes ditengarai kuat telah menjadi ajang "bancakan". Terjadi praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang secara vulgar oleh pihak pengelola, dalam skala yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Fakta di lapangan mengonfirmasi adanya kebocoran anggaran yang masif akibat tata kelola yang koruptif. Kasus penangkapan Kepala dan Wakil Kepala lembaga pengelola MBG atas dugaan korupsi triliunan rupiah menjadi bukti nyata betapa rapuhnya benteng integritas dalam implementasi kebijakan ini.

Di sisi lain, karut-marut pada program KopDes menampilkan karakteristik penyimpangan yang sedikit berbeda, khususnya pada aspek tata ruang dan logistik. Salah satu temuan yang paling menonjol adalah pemilihan lokasi proyek yang tidak logis. Secara regulasi, program ini seharusnya berjalan di dalam ekosistem desa. Namun, karena ketidaktersediaan lahan di tingkat desa, KopDes justru dipaksakan dibangun di luar batas wilayah administrasi desa atau bahkan di atas lahan yang status hukumnya tidak jelas (lahan tak bertuan). Ini mengindikasikan adanya pemaksaan penyerapan anggaran tanpa perencanaan matang.

Evaluasi Yang Penuh Empati

Melihat bagaimana program strategis nasional ini begitu mudah dimanipulasi oleh para pelaksana—yang notabene adalah orang-orang terdekat dan mendapat kepercayaan penuh dari otoritas tertinggi—muncul pesimisme publik yang mendalam. Rasanya sulit mengharapkan keberhasilan yang optimal dari program yang sejak awal sudah digerogoti dari dalam.

Meskipun demikian, pemerintah tampak tetap menunjukkan determinasi politik untuk menyelamatkan program ini demi kemajuan bangsa. Langkah responsif mulai terlihat ketika pemerintah mengambil tindakan tegas dengan menghentikan sementara (moratorium) program MBG, menindak hukum para pimpinan dan pengelola yang korup, serta menginisiasi evaluasi total. Ketegasan hukum ini menjadi prasyarat mutlak, sebab program unggulan apa pun, tanpa adanya sistem pengawasan yang ketat, hanya akan menjadi karpet merah bagi para koruptor dan kroninya.




Wednesday, May 27, 2026

Seleksi Prajurit, Intinya Persiapan Yang Baik

 


Oleh Harmen Batubara

Dalam setiap proses seleksi, termasuk seleksi Prajurit TNI, selalu ada cerita yang beredar tentang adanya rekomendasi, kedekatan, atau intervensi dari pihak tertentu. Hal seperti itu memang tidak bisa dipungkiri pernah terjadi. Ada ajudan, kerabat, atau orang-orang tertentu yang mendapat perhatian lebih dari para petinggi. Mereka mungkin tidak memaksa secara langsung, tetapi keinginan mereka sering kali sulit diabaikan oleh panitia seleksi.

Dan ketika hal seperti itu terjadi terus-menerus, perlahan kepercayaan publik terhadap proses seleksi bisa ikut terganggu. Yang membedakan mungkin hanya besar kecilnya persentase penyimpangannya setiap tahun. Kadang lebih sedikit, kadang lebih besar. Tetapi kenyataannya, isu seperti ini selalu muncul dan terus menjadi pembicaraan.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan:

Seleksi yang sesungguhnya tetap dimenangkan oleh mereka yang benar-benar siap.

Masuk menjadi Prajurit TNI pada dasarnya bukan sesuatu yang mustahil. Persaingannya memang sangat ketat, tetapi peluang itu tetap terbuka bagi siapa saja yang mau mempersiapkan diri secara serius dan disiplin.


Kunci utamanya adalah persiapan.

Pahami proses seleksinya. Ketahui apa saja yang akan diuji. Mulai dari administrasi, kesehatan, psikotes, akademik, hingga tes kesamaptaan jasmani. Setelah memahami prosesnya, barulah latihan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terarah.

Seleksi TNI, baik TNI AD, TNI AL, maupun TNI AU, pada dasarnya memiliki pola yang hampir sama. Semua disesuaikan dengan kebutuhan organisasi dan standar kemampuan prajurit yang dibutuhkan negara.

Karena itu, kalau ingin lolos, jangan hanya mengandalkan keberuntungan.

Kuasai ilmunya. Latih fisik dengan disiplin. Bangun mental yang kuat. Dan iringi semuanya dengan doa.

Misalnya untuk menghadapi tes kesamaptaan, seorang calon idealnya mampu mencapai standar latihan seperti:
• Lari 2.800 meter dalam 12 menit
• Pull up 18 kali
• Push up 43 kali
• Sit up 43 kali
• Shuttle run 17 detik

Kalau standar itu belum tercapai, bukan berarti gagal. Artinya Anda masih perlu berlatih lebih keras lagi. Jangan buru-buru mendaftar sebelum benar-benar siap. Tingkatkan kemampuan sedikit demi sedikit sampai mencapai minimal 80 persen dari standar yang ditentukan.

Persiapan yang baik tidak lahir dari kemalasan. Ia lahir dari latihan, disiplin, pengetahuan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Dan kalau suatu hari Anda belum berhasil lolos, jangan langsung menyerah. Bisa jadi Tuhan sedang menyiapkan jalan terbaik yang berbeda untuk hidup Anda.

Tetapi satu hal yang pasti:
Mereka yang mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, akan selalu memiliki peluang lebih besar untuk menang.