Oleh Harmen Batubara
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi
Desa (KopDes) di atas kertas mengusung tujuan yang sangat mulia. Keduanya
dirancang sebagai program unggulan yang mendapatkan dukungan penuh serta
legitimasi politik yang kuat dari pemerintah.
Dalam kacamata kebijakan publik, ada asumsi bahwa
program skala besar seperti ini sengaja dioperasionalkan terlebih dahulu lewat
jalur birokrasi yang ada. Tujuannya pragmatis: untuk memetakan titik sumbat (bottleneck) secara riil—apakah kelemahan mendasar
terletak pada level administrasi birokrasi atau pada manajemen eksekusinya.
Dengan begitu, pemerintah dapat melakukan evaluasi yang menyeluruh berbasis
data lapangan.
Anomali Yang Tragis
Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan
anomali yang tragis. Program MBG dan KopDes ditengarai kuat telah menjadi ajang
"bancakan". Terjadi praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang
secara vulgar oleh pihak pengelola, dalam skala yang tidak pernah terbayangkan
sebelumnya. Fakta di lapangan mengonfirmasi adanya kebocoran anggaran yang
masif akibat tata kelola yang koruptif. Kasus penangkapan Kepala dan Wakil
Kepala lembaga pengelola MBG atas dugaan korupsi triliunan rupiah menjadi bukti
nyata betapa rapuhnya benteng integritas dalam implementasi kebijakan ini.
Evaluasi Yang Penuh Empati
Melihat bagaimana program strategis nasional ini
begitu mudah dimanipulasi oleh para pelaksana—yang notabene adalah orang-orang
terdekat dan mendapat kepercayaan penuh dari otoritas tertinggi—muncul
pesimisme publik yang mendalam. Rasanya sulit mengharapkan keberhasilan yang
optimal dari program yang sejak awal sudah digerogoti dari dalam.
Meskipun demikian, pemerintah tampak tetap
menunjukkan determinasi politik untuk menyelamatkan program ini demi kemajuan
bangsa. Langkah responsif mulai terlihat ketika pemerintah mengambil tindakan
tegas dengan menghentikan sementara (moratorium) program
MBG, menindak hukum para pimpinan dan pengelola yang korup, serta menginisiasi
evaluasi total. Ketegasan hukum ini menjadi prasyarat mutlak, sebab program
unggulan apa pun, tanpa adanya sistem pengawasan yang ketat, hanya akan menjadi
karpet merah bagi para koruptor dan kroninya.


