Saturday, July 28, 2018

Hafid Bahtiar Anak Pedagang Gorengan Yang Jadi Perwira TNI




Hafid Bahtiar Anak Pedagang Gorengan Yang Jadi Perwira TNI
Perwira merupakan suri tauladan dan sumber inspirasi bagi anak buahnya, baik dalam hal sikap, perkataan maupun perbuatan. Perwira harus memiliki karakter sebagai pemimpin yang kredibel,  jujur, bijaksana dan selalu mengutamakan kepentingan negara di atas segala-galanya. Hal tersebut disampaikan Kasad Jenderal TNI Mulyono dalam sambutannya pada upacara Penutupan Pendidikan dan Wisuda Sarjana Taruna Akmil Tingkat IV/Sermatutar Tp. 2017/2018, bertempat di Gedung Moch. Lily Rochli, Megelang, Jawa Tengah, Selasa (10/7/2018) Untuk kemudian para Perwira Muda ini akan dilantik Oleh Presiden di Istana Negara pada tanggal 26 Juni 2018
Siapa sangka ternyata dari 724 perwira ini terdapat seorang Perwira yang datang dari kalangan keluarga kurang mampu.  Dialah Hafid Bahtiar, lulusan Akmil peringkat 77 Akademi Militer (Angkatan Darat) tahun 2018 merupakan anak pedagang gorengan. Tidak tanggung-tanggung dia dengan jelas mengatakan bercita-cita menjadi Panglima TNI. "Meski saya anak seorang kuli bangunan, tetapi cita-cita saya ingin menjadi Panglima TNI." tutup Hafid waktu itu.
Bagaimana kehidupan sehari-harinya?
Hafid  lahir di Tulungagung 30 Desember 1995, merupakan anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Mujani dan Supriatin. Kedua orang tua Hafid merupakan pedagang gorengan di sebuah desa kecil di wilayah Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. "Saya dan istri mengolah adonan jajanan gorengan, Hafid mengantarkan gorengan ke warung-warung," kata Mujani meski sekarang sudah tidak jual gorengan lagi dan lebih sering menerima kerja serabutan, Rabu (25/7/2018).

Postur jangkung dan fisik kuat yang terbentuk dari kegiatan kesehariannya sebagai pemain basket dari SMAN 1 Campurdarat Tulungagung merupakan modal awal mendaftar Taruna Akmil. Dia menjelaskan bahwa anak keduanya ini mendaftar 2 kali sebagai Taruna untuk Akmil pada 2013 dan tahun 2014 dan akhirnya dinyatakan lulus pada tahun 2014. "Dia niat dengan keinginan sendiri untuk menjadi Taruna Akmil. Dua kali daftar semuanya Akmil, usai gagal di pendaftaran yang pertama sempat ditawarin untuk mendaftar Secaba tetap kokoh untuk daftar Akmil," ungkapnya.
Mujani juga menyebutkan bahwa anaknya mempunyai tekad yang bulat untuk menjadi Taruna Akmil meski dihadapkan dengan kondisi sederhana yang melekat pada kedua orangtuanya di Kabupaten Tulungagung. "Los aja pak, bismilah saja. Nggak usah memikirkan biaya untuk masuk Taruna," ujar Mujani sambil menirukan ucapan Hafid saat daftar Taruna Akmil. Hafid mengaku sebelum diterima sebagai Taruna Akmil, dia sering membantu meringankan beban kedua orang tuanya dalam mencari nafkah. Dia menceritakan bagaimana gigihnya kedua orang tuanya bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. "Orang tua saya pernah berdagang bakso, gorengan, jagung dan kacang rebus di pinggir jalan. Masih ingat di memori saya waktu sekolah di SD dan SMP membawa gorengan saya jual di sekolah," ungkap Hafid.
Menginjak remaja, siswa SMA Negeri 1 Campurdarat masih gigih membantu meringankan beban orang tuanya. Mulai dari menjadi tukang batu marmer sepulang sekolah hingga meluangkan waktu melatih basket anak-anak di kampungnya. "Honor yang didapat lumayan buat beli makan sehari-hari dan uang saku sekolah." tutur Hafid.
Hafid selalu bersyukur dan berpikir positif dengan segala karunia yang diberikan oleh Tuhan. "Semua yang kami dapat selalu kami syukuri" tambahnya. Hafid selalu mengingat pesan moral dari orang tuanya untuk selalu bersemangat dan tidak mudah putus asa. "Jangan pandang siapa orang tuamu atau keluargamu. Tetapi berbanggalah darimana keluargamu." ungkap Hafid menirukan pesan orang tuanya saat dia gagal daftar Akmil di tahun 2013. Gagal di pendaftaran Akmil pertama ia  sempat ditawarin untuk mendaftar di Secaba. Tapi Hafid  tetap kokoh untuk daftar Akmil. Dia percaya, kalau sungguh-sungguh pasti bisa masuk Akmil.
Pada tahun 2014 dia mendaftar lagi, dan benar. Dia lulus. Malah diberi kesempatan untuk menjabat sebagai mayoret Taruna Drum Band Taruna Akmil.  Meski dari keluarga yang kurang mampu, Hafid bangga bisa menjadi seorang prajurit dan bercita-cita menjadi Jenderal. "Meski saya anak seorang kuli bangunan, tetapi cita-cita saya ingin menjadi Panglima TNI," Di TNI semua mimpi bisa saja jadi kenyataan asalkan bisa memenuhi standar TNI itu sendiri. Ya "Orang tua saya pernah berdagang bakso, gorengan, jagung dan kacang rebus di pinggir jalan. Masih ingat di memori saya waktu sekolah di SD dan SMP membawa gorengan saya jual di sekolah." ungkap Hafid dengan mata yang berbinar-binar.
Bahkan saat pelantikan oleh Presiden di Jakarta. Keluarga Hafid hamper saja gagal mengikuti kegiatan Prasetya Perwira (Praspa) yang dilaksanakan di Istana Presiden. Pasalnya orang tua Hafid, Mujani dan keluarga mengaku belum siap sarana dan pra sarana serta akomodasi untuk datang ke Istana Presiden di Jakarta.
Untunglah kabar seperti itu sempat terdengar oleh Pangdam V Brawijaya. Mendengar kabar seperti itu Pangdam lewat  Aspers Kasdam menyampaikan atensinya untuk memberikan perhatian kepada keluarga Taruna Akmil dari Tulungagung ini. Bisa diduga maka Danrem 081/DSJ dan Dandim 0807/Tulungagung segera ulur tangan serta memfasilitasi segala keperluan yang dibutuhkan keluarga Hafid untuk dapat mengikuti kegiatan Prasetya Perwira di Istana Presiden.
Nah bagi anak-anak muda yang memang ingin menjadi Prajurit TNI, jangan pernah ragu. Percayalah kalau anda memang punya kualifikasi, dan telah mempersiapkan diri dengan baik maka percayalah proses seleksi di lingkungan TNI akan berjalan dengan baik, serta bisa anda andalkan. Jangan percaya kalau untuk jadi prajurit TNI perlu uang dan perlu koneksi ini dan itu. TNI tidak akan menodai institusinya, dan mereka akan mencari calon prajurit yang memang baik dan mampu.


No comments:

Post a Comment