Thursday, December 3, 2015

Prajurit Kowad Dalam Misi Perdamaian PBB, Serma Rita Erna Mayasari

Serma Rita Erna Mayasari: “Sosok Kowad Dalam Misi Perdamaian PBB”

Setiap warga Negara Indonesia baik pria maupun wanita memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam membela Negara Indonesia. Atas dasar itulah wanita kelahiran 35 tahun lalu ini ingin mengabdikan dirinya kepada bangsa dan Negara melalui TNI. Menurutnya, dengan menjadi prajurit Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) merupakan salah satu wujud pengabdian kepada bangsa dan Negara Republik Indonesia.
Dengan berbekal tekad yang kuat dan motivasi yang tinggi, selepas dinyatakan lulus SMU pada tahun 1997, Rita Erna Mayasari mendaftarkan dirinya untuk bergabung dengan TNI Angkatan Darat di Kodam VI/Tpr yang saat ini telah berubah menjadi Kodam VI/Mlw. Melalui seleksi Secaba Kowad yang sangat ketat, akhirnya Rita dinyatakan lulus dan berhak mengikuti pendidikan Secaba Kowad di Pusdik Kowad Kodiklat TNI AD Lembang Bandung. Selama kurang lebih satu tahun menjalani pendidikan dasar dan dilanjutkan dengan pendidikan kejuruan Bekang di Cimahi, Bandung, pada tahun 1998 dinyatakan lulus dengan menyandang pangkat Sersan Dua Kowad dan resmi bergabung dengan TNI Angkatan Darat menjadi anggota Korps Wanita Angkatan Darat. Awal penugasan, Sersan Mayor (K) Rita sesuai dengan ilmu pendidikan kecabangannya ditempatkan di satuan Perbekalan Denma Markas Besar Tentara Nasional Indonesia, sampai dengan tahun 1999. Berjalannya waktu Ibu dua putri ini mendapatkan perintah untuk mengikuti seleksi ADC Ibu Kasum TNI, dan selama 2 tahun mendampingi Ibu Kasum. Selanjutnya pada tahun 2000 ditugaskan di staf Kasum TNI yang diperbantukan di bagian administrasi sampai dengan sekarang
Tergabung dalam Satgas Yonif Mekanik
Kontingen Garuda XXIII-E/UNIFIL Berawal pada akhir tahun 2010, ada permintaan dari PBB yang membutuhkan personel Wanita TNI untuk bergabung dalam misi perdamaian PBB. Merupakan suatu kebanggan bagi Serma Rita yang ketikan itu, mendapat perintah untuk mengikuti seleksi tersebut. Namun diballik rasa bangga , Serma Rita sempat terpikir apakah tega untuk meninggalkan keluarga terutama anak-anak? Tetapi kembali pada sumpah dan janji sebagai seorang prajurit harus siap melaksanakan perintah. Dukungan terbesar didapatkan dari suami, maka tekad serma Rita untuk mengikuti test tersebut dilanjutkan. Hampir lebih 20 peserta yang mengikuti test hingga akhirnya terpilih masing-masing matra dari Darat, Laut dan Udara untuk mewakili Mabes TNI. Kemudian bergabung dengan rekan-rekan dari masing-masing matra untuk melakukan persiapan memasuki masa pratugas. Test yang dilalui tidaklah mudah dari mulai test kesehatan, jasmani, psikotest, Bahasa Inggris dan komputer. Setelah dinyatakan lulus Rita melakukan berbagai persiapan baik secara mental dan fisik. Saat itu tergabung dalam Satgas Yonif Mekanik
Kontingen Garuda XXIII-E/UNIFIL 2010-2011.
Akhir November 2010 kami berangkat menuju Lebanon Penugasan di Lebanon Suatu negara yang dari awal berdiri selalu memiliki konflik terutama dengan Israel. Permasalahan konflik antara Lebanon dengan Israel merupakan permasalahan perbatasan Internasional atau dikenal dengan nama “Blue Line” yang meruncing pada tahun 2006 saat kelompok Hisbullah menyerang patroli perbatasan Israel dan menculik 2 prajurit AB Israel yang kemudian dibalas dengan invasi Israel ke Lebanon selama 34 hari. Akan tetapi dari dalam negeri Lebanon sendiri banyak terjadi gejolak seperti perang saudara dan konflik politik. Tantangan yang tentu saja tidak mudah khususnya bagi kami Wanita TNI untuk bisa menjalankan tugas dihadapkan pada kondisi Lebanon saat itu , juga kulture masyarakat yang boleh dibilang sangat keras wataknya akibat dari negara yang berkonflik. Wanita TNI sebagai bagian integrasi dari TNI turut pula memantapkan kiprahnya sebagai prajurit profesional yang dibangun secara riil dan mengedepankan aspek kemahiran untuk kemiliteran yang di topang oleh aspek moral, etika, disiplin serta kesejahteraan dengan tetap pada jati dirinya sebagai prajurit Sapta Marga.
Suka Duka
Dalam pelaksanaan tugas tentu saja, ibu dua orang putra/putri ini mengalami suka dan duka saat di medan tugas. “Harus terpisah dengan keluarga tercinta sudah pasti merupakan hal terberat, tetapi dengan kekuatan dari Sang Maha pencipta saya bisa mengatasi itu semua dengan melakukan komunikasi intens melalui video call di saat pekerjaan selesai atau di sela-sela waktu luang saya, paling tidak bisa mengobati kerinduan pada keluarga terutama kepada anak-anak saya,” kisah Serma Rita. Hambatan lainnya pada penugasan adalah masih adanya ketidakpercayaan dari rekan-rekan pria bahwa para tentara wanita mampu untuk melaksanakan tugas tersebut, hingga tidak jarang terjadi perdebatan, namun hal tersebut dilalui, tentu saja dengan kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik kepada pimpinan hingga akhirnya dapat merasakan bagaimana berpatroli di jalur jalur konflik. “ Setelah mereka tahu bahwa kamipun mampu melaksanakan tugas dengan baik akhirnya para pimpinan yakin bahwa kami bisa melaksanakan tugas yang diperintahkan kepada kami wanita TNI.” Menghadapi masyarakat yang walau terlihat baik tetapi tetap dituntut kewaspadaan yang cukup tinggi, terkadang dihadapkan pada masyarakat yang sangat keras kepala namun dengan pendekatan serta sikap bersahabat kepada mereka hingga akhirnya mereka bisa menerima keberadaan kita dengan baik, sehingga mereka bisa mengatakan love Indonesia. Hal ini terbukti dari sebagian daerah yang menjadi tanggung jawab Indonesia masyarakatnya dapat berbaur dengan kita bahkan Sekjen PBB pun mengakui hal tersebut. Selain itu juga Wanita TNI turut berkontribusi dalam bidang olahraga yang diselenggarakan oleh UNIFIL Wanita TNI khususnya Kowad yang ikut serta dalam beberapa pertandingan diantaranya bulutangkis dan tenis meja. Dengan berbangga hati saat itu saya berhasil meraih Medali Emas pada  ganda putri dan Medali perak pada ganda  campuran serta Medali Perunggu pada  tunggal putri Bulutangkis. Dengan kodratnya sebagai wanita bersama-sama kami juga tak segan-segan untuk menyuguhkan tarian-tarian asli Indonesia dari berbagai adat istiadat yang ada, tentunya kami sudah mempersiapkan sebelum kami malaksanakan penugasan dengan latihan terlebih dahulu beberapa tarian, untuk penyambutan tamu2 dari negara-negara yang berada di Sektor Timur. Komando Sektor Timur dipimpin oleh seorang Perwira tinggi berpangkat Brigjen berasal dari Spanyol dan mempunyai seorang wakil berpangkat Kolonel yang berasal dari Indonesia. Selama satu tahun, isteri dari Khaeruddin ini melaksanakan penugasan di Lebanon dan kembali ke tanah air pada akhir tahun 2011.
(Sumber: http://www.tniad.mil.id/index.php/2015/07/serma-rita-erna-mayasari-sosok-kowad-dalam-misi-perdamaian-pbb/)

Thursday, November 12, 2015

Panduan Seleksi Masuk Prajurit Tni/Polri

Panduan Seleksi Masuk Prajurit Tni/Polri
oleh harmen aekgarugur

Sebelum Anda mendaftar dan mengikuti seleksi menjadi prajurit TNI/Polri, akan jauh lebih baik bila anda melengkapi pengetahuan Anda tentang seluk-beluk seleksi itu sendiri. Karena dengan berbekal pengetahuan yang baik dan cukup, maka sangatlah besar kemungkinan Anda untuk lulus dalam seleksi tersebut.
 Kenapa Mereka Gagal? Banyak pemuda indonesia sesungguhnya ingin menjadi anggota TNI, karena menjadi prajurit TNI memang menarik dan membanggakan. Kenapa tidak? Di samping bisa mengabdi pada Nusa dan Bangsa, prajurit memperoleh penghargaan tersendiri dari warga masyarakat. Prajurit menerima berbagai layanan keprajuritan seperti, perumahan, tunjangan keluarga, tunjangan operasi, jabatan, rawatan kesehatan, tunjangan perumahan,  tunjangan hari tua, dan asuransi jiwa. Di samping itu, dan yang tidak kalah menariknya adalah pembinaan prajurit TNI itu sendiri. TNI adalah salah satu institusi yang membina prajuritnya secara berlanjut, berjenjang, dan membanggakan. Pembinaan dan pendidikan yang mengajarkan kepemimpinan secara sistematis  dan sudah teruji di indonesia. Praktis hidup seorang prajurit adalah rangkaian pendidikan, penugasan, pelatihan dan operasi.

Tetapi ternyata untuk masuk jadi prajurit TNI itu tidak mudah. Tidak mudah dalam artian, kalau anda memang tidak cocok jadi prajurit maka itu akan langsung ketahuan. Tidak cocok disini bisa karena faktor psikologis atau kejiwaaan, faktor kesehatan, intelektualitas, dan postur tubuhnya sendiri. Secara fisik sesorang calon prajurit bisa terlihat gagah, tetapi begitu diuji dan di test kesehatan dan kemampuan ideologi dan intelektualnya ternyata memang dia tidak cocok jadi prajurit TNI. Nah yang lebih parah lagi, banyak para calon prajurit itu sesungguhnya tidak jelas dan tidak tahu bagaimana sebenarnya proses seleksi itu dilakukan. Apa saja sebenarnya yang perlu dipersiapakan agar bisa lolos seleksi jadi prajurit TNI itu.
Buku ini dimaksudkan sebagai panduan sederhana dalam mempersiapkan diri mengikuti seleksi masuk Prajurit baik TNI dan secara umum untuk semua tingkatan baik Perwira, Bintara serta Tamtama. Karena pada dasarnya, standar tes Seleksi Masuk Prajurit TNI adalah relatif sama di semua Angkatan, antara lain : Akademi TNI (Akmil, AAL, AAU) dan Akpol, Perwira Prajurit Karier (Pa PK TNI), Sekolah Penerbang TNI Prajurit Sukarela Dinas Pendek (PSDP) , Mahasiswa Beasiswa Ikatan Dinas TNI, Bintara Prajurit Karier TNI (AD/AL/AU/Pol), Tamtama Prajurit Karier TNI (AD/AL/AU) dan Wanita TNI (Kowad, Kowal, Wara) dan Polwan, yang membedakan adalah pada ke khususannya masing-masing satuan dan tingkatan atau levelnya sendiri.
Fakta menunjukkan bahwa banyak sekali Peserta Tes yang gagal atau tidak lulus dalam tes penerimaan Prajurit TNI, karena mereka memang tidak tahu mau apa? Bisa dibayangkan, tanpa mengetahui cara dan ragam materi yang akan diujikan tentu Anda pasti kecut dan frustrasi. Walaupun sebenarnya Anda memenuhi standar untuk menjadi Prajurit TNI., tetapi karena tidak tahu apa-apa ya malah bingung nggak karuan. Buku ini diharapkan dapat memberi peluang yang lebih baik untuk mengembangkan bakat atau potensi yang dimiliki secara maksimal untuk bisa mengikuti tes, Anda diharapkan bisa lebih siap dalam mempersiapkan diri.

Memang banyak faktor yang menyebabkan seseorang tidak lulus / gagal dalam tes penerimaan Prajurit TNI, namun salah satu faktor penyebab yang paling menonjol adalah karena pada umumnya mereka tidak memiliki pengetahuan yang benar dan cukup tentang seleksi tersebut. Bisa dibayangkan, jika dalam mengikuti seleksi tanpa bekal pengetahuan yang memadai, maka sudah pasti seleksi Anda hanya bisa bersifat pasrah dan untung-untungan. Padahal jika seandainya Anda mempunyai pengetahuan tentang seleksi, maka hasilnya akan lebih baik karena mempunyai kesempatan mempersiapkan diri secara lebih optimal sehingga kemungkinan lulus jadi lebih besar.


Persyaratan administrasi adalah mutlak. Anda dituntut untuk bisa melengkapi dan menyerahkannya secara lengkap pada waktunya. Apabila tidak lengkap jangan harap Anda akan dapat panggilan dari panitia untuk melaksanakan tes berikutnya. Oleh karena itu, hal ini bisa Anda lakukan dengan mencari informasi yang dibutuhkan melalui media massa atau website resmi TNI di tiap-tiap angkatan. Apabila Anda ingin mendapatkan informasi yang lebih jelas lagi maka jangan sungkan atau ragu dengan mendatangi satuan TNI terdekat, datanglah ke Bagian Personel di instansi TNI tersebut dan tanyakan informasi yang Anda perlukan. Kalau cara Anda baik, pasti Anda dilayani dengan baik pula.

Saturday, October 24, 2015

Jadi Prajurit Tidak Susah, Ini Pesan Bagi Mereka Yang Sedang Berjuang Jadi Prajurit TNI








Jadi Prajurit Tidak Susah, Ini Pesan Bagi Mereka Yang Sedang Berjuang Jadi Prajurit TNI
Suatu hari tidak sengaja saya membaca sebuah curhatnya seorang anak muda yang ingin sekali bisa diterima jadi seorang prajurit. Sebagai salah sorang mantan prajurit saya bisa merasakan tekatnya. Cobalah baca apa yang dia tuliskan dalam blognya (http://menjaditni.blogspot.com/2013/02/aku-masih-berjuang.html#more). Selngkapnya dia tuliskan pada blognya begini:

Aku Masih Berjuang
Ini mungkin sedikit cerita tentang Cita - citaku. Keinginanku untuk mejadi seorang Prajurit TNI sangat besar,sampai - sampai aku merelakan segenap hari - hariku selama 3 tahun untuk berjuang menjadi Prajurit TNI.Tak ada kata menyerah di dalam jiwaku untuk mengejar cita - cita ku itu...dengan dukungan orang tua,aku yakin pasti bisa menjadi Prajurit TNI.

Ingin tau bagaimana pertama kalinya aku berjuang?
Berikut sekilas cerita dariku.....Pertama keinginan itu muncul sewaktu aku masih duduk dibangku SMA,terfikir dibenakku keinginan itu. Setelah waktu berjalan masa - masa SMA terlewati.Dari ujian nasional yang membuat ku gemetar tak berdaya karena harus lulus dengan nilai baik. Dari mulai situlah aku merasakan perjuangan yang sangat berat. Namun setelah aku lewati dengan berbagai cobaan ujian itupun selesai dan akhirnya aku Lulus dengan nilai Alhamdulillah baik.
Suatu ketika aku mulai berfikir serius tentang cita - citaku itu. Aku tunggu sampai adanya pendaftaran. Disuatu saat ada pendaftara SECABA POLISI,aku bertekat mengikutinya dengan jiwa yang semangat aku jalani pendaftaran dangan senang. Sesampainya pendaftaran jadwal test pun dimulai,test demi test aku lalui dengan lancar mulai dari test Penimbangan berat dan tinggi badan,test Psikologi,sesampainya ditest kesehatan seorang dokter Gigi berbicara "Kenapa gigi anda berantakan" dari situlah aku mulai berfikhir akankah aku gagal di test kesahatan ini.
     Jadwal pengumuman test kesahatan pun ditentukan dua hari berikutnya,setelah dua hari menunggu dengan rasa cemas,deg-degan,gemetar dan terus berdo'a. Waktu itupun tiba,pengumuman dikumandangkan,dan akhirnya dugaan keresahan hatiku waktu itupun muncul,benar aku tidak lolos dites kesehatan tersebut. Pulang dengan rasa sedih,gelisah,karena dalam pikiran belum bisa membahagiakan orang tua.
     Tapi aku tidak menyerah begitu saja,aku menunggu lagi pendaftaran - pendaftaran berikutnya,sesampainya berjalannya hari ada pendaftaran TNI - AL,dengan semangat dan mengucap Bassmallah aku ikuti lagi pendaftaran itu. Pendaftaran aku lalukan di Surabaya,dengan belum tau tempat pendaftaran tanya kesana - kesini,dan akhirnya sampai juga ditujuan. Pendaftaran selesai dan waktu test ditentukan satu minggu kemudian.
Tiba saat test tiba bearngkat dari rumah H-2 sesampainya ditujuan aku mencari rumah kost untuk melepas lelah dan untuk menjalani berbagai test. Test pun akhirnya tiba,seperti sebelumnya test berat dan tinggi badan aku lalui dengan lancar,test Psikologi materi pun aku lalui dengan lancar,sesampainya ditest Psikologi menggambar hal buruk itu lagi muncul kegagalan malanda diriku kembali.
      Dengan perasaan sedih gelisah dan terdiam aku pulang,tetapi semua kegagalan itu tidak membuatku putu asa,bahkan aku terus semangat aku harus bisa,cita - cita ku harus aku kejar meskipun keujung duniapun.Setelah itu aku selalu menjaga fisik dan berat badanku dengan berlari - lari setiap siang. Tidak peduli panas dengan tekad yang kuat aku harus bisa selelah apapun tidak aku rasakan.
     Selang beberapa bulan ada pendaftaran IPDN hal sama aku lakukan,aku ikuti kembali pendaftaran itu dengan pasti rasa semangat,tekad yang kuat,aku yakin bisa.Pendaftaran terlampaui,test - testpun aku lampaui dengan lancar,akhirnya test terakhir aku jalani dengan mengucup syukur aku bisa sampai ketahap akhir. Dengan selalu bedoa aku memohon semoga kali ini aku bisa masuk. Test pun aku jalani dengan serius,testpun berakhir pengumuman jadwal siapa yang lolospun jg keluar tanggal kapannya. Sesampai dirumah aku selalu berdo'a semoga kali ini aku lolos,aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku.
Beberapa hari kemudian hari yang aku nanti - nanti itu pun tiba pengumuman diucapkan ,siapa saja yang lolos,dipanggil satu persatu nomor calon PRAJA IPDN dipisahkan antara yang lolos dan yang tidak lolos. Dengan terus berdo'a semoga kelompok yang aku ada disitu bisa lolos,tapi ternyata yang dibagian kelompokku itu yang tidak lolos,dengan rasa kecewa,sedih kembali,aku terperangah mendengar pengumuman itu. Sampai - sampai aku berkata " Ya ALLAH apa salahku,kenapa aku gagal lagi,aku itu ingin membahagiakan kedua orang tuaku" pulang kembali dengan perasaan yang sama,tetapi dibenakku tidak ada kata menyerah,aku akan selalu berusaha selagi aku bisa dan harus bisa. Tiga tahun berjalannya waktu aku memutuskan untuk kembali menuntut ilmu jenjang perguruan tinggi. Dan akhirnya aku masuk di perguruan tinggi swasta 'STMIK AMIKOM YOGYAKARTA' aku jalani hari - hari dengan kehidupan baru,tetapi aku tidak akan lupa akan cita - cita ku,aku akan terus kejar sampai aku dapat.
      Ditahun ini aku menargetkan ingin serius kuliah dengan nilai yang baik agar aku bisa mudah mendaftar Calon PERWIRA nanti. Terget sekarang adalah PERWIRA,aku tidak menyerah begitu saja,meskipun kata orang mungkin belum rejekinya disitu,tetapi aku tetap bertekad untuk mengejar cita - citaku itu sampai dapat. Apapun akan aku lakukan supaya bisa masuk menjadi PRAJURIT TNI.....
Mungkin ini sedikit cerita tentang kehidupanku,dengan penuh kegagalan. Tetapi aku yakin kegagalan itu adalah awal dari kesuksesan......."TERIMA KASIH"
Love You Adikku,Pap N Mam.....Aku Akan Membahagiakan Kalian.

Inilah Nasehatku pada Pemuda perkasa itu serta rekan-rekan senasibnya
Memang harus diakui niat saja sesungguhnya baru modal awal. Tetapi yang sangat menentukan tentunya adalah strategi dan taktik untuk bisa lolos menjadi prajurit TNI.



Pertama dan yang utama adalah mempersiapkan diri secara baik dan benar, hal itu hanya bisa Anda lakukan kalau memang Anda mengeri ilmunya. Salah satunya ya misalnya dengan membaca buku seperti yang saya tulis ini “ Persiapan Tes Masuk Jadi Prajurit TNI”. Buku ini ditulis khusus untuk tokoh yang kita bicarakan seperti diatas tersebut. Namanya sebenarnya adalah Richad. Menurut saya peluangnya untuk bisa jadi prajurit TNI masih terbuka lebar, asal dia memang mau mempersiapkan diri dengan baik dan benar.

Wednesday, September 30, 2015

Gagal Masuk Tamtama, Tidak Lulus Seleksi Caba Tapi Lulus Jadi Perwira





Gagal Masuk Tamtama, Tidak Lulus Seleksi Caba Tapi Lulus Jadi Perwira
Oleh harmen batubara



Kalau anda sudah pernah gagal masuk prajurit TNI, maka yang penting anda perhatikan adalah jangan sampai putus asa. Banyak prajurit yang telah mengikuti test seleksi sampai beberapa kali. Sebenarnya dia sudah beberapa kali mengikuti seleksi masuk prajurit TNI. Bisa terjadi seorang prajurit sudah pernah mengikuti seleksi Tamtama namun gagal di tahap pertama yaitu kesehatan. Kemudian setelah kegagalan tersebut dia memperbaiki kekurangannya dan mendaftar kembali, kali ini mendaftar seleksi Bintara (satu tingkat lebih tinggi dari Tamtama). Sepintas kita bisa katakan  Tamtama saja tidak lulus apalagi Bintara yang tingkatnya lebih tinggi, namun kenyataan berkata lain. Berkat perbaikan yang dia lakukan kali ini tes tahap kesehatan berhasil dia lalui walaupun harus tetap bersabar karena kembali gagal di tahap Akademis.

Hal tersebut tidak menjadikannya putus asa, dengan pengalaman yang dia dapatkan pada saat mendaftar sebagai calon prajurit TNI dia mencoba mendaftar seleksi menjadi anggota POLRI, namun hasilnya tetap sama tidak diterima.  Tentu sebagai manusia biasa, rasa khawatir dan cemas pun mulai mengganggu jiwanya. Melihat pengalamannya yang selalu gagal, kita bisa simpulkan dia juga akan gagal apabila dia ingin mengikuti seleksi Akademi TNI (perwira) pasti akan gagal lagi karena proses seleksinya jauh lebih ketat. Namun apa yang terjadi?  Dia putuskan untuk ikut seleksi Akademi TNI dan hasilnya sungguh menakjubkan, ternyata dia berhasil lulus. Pengalamannya mengikuti proses seleksi dari tingkat Tantama dan Bintara ternyata telah memberikan  pembelajaran dan perbaikan dalam jiwa dan semangat juangnya, sehingga mengantarkannya lulus menjadi perwira Angktan Darat.

Dari apa yang diceritakan di atas, ada beberapa hal yang perlu anda ambil hikmahnya,  yakni  sikap pantang menyerah, belajar dari pengalaman, dan pembelajaran merupakan suatu sikap yang harus kita pelihara dan terus dijaga pada saat kita menghadapi seleksi. “Gagal di suatu hal bukan berarti kita gagal di hal yang lain sekalipun hal  tersebut lebih tinggi, lebih kompetitif dan lebih tidak mungkin sekalipun. Ingat seperti kata pepatah ; kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.  Kalau anda berjuang maka “Allah maha mengetahui dan mempunyai sesuatu untuk kita”

Friday, September 18, 2015

Penyandera di Papua,Akhirnya Bebaskan Dua Warga Indonesia

         Lazada Indonesia

Penyandera Akhirnya Bebaskan Dua Warga Indonesia
Oleh FABIO COSTA
Dua warga negara Indonesia, Ladiri Sudirman dan Badar, yang disandera kelompok sipil bersenjata di Kampung Skouwtiau, Papua Niugini, sejak 12 September akhirnya dibebaskan pada Jumat (18/9). Operasi pembebasan dilakukan oleh tentara Papua Niugini. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memberikan keterangan pers terkait pembebasan dua WNI yang disandera kelompok bersenjata di kantor Kemenlu, Jakarta, Jumat (18/9). Retno menyatakan, dua WNI atas nama Ladiri Sudirman dan Badar telah dibebaskan dan diserahterimakan oleh Pemerintah Papua Niugini kepada Konsulat RI di Vanimo, Papua Niugini.

Antara/Rudi HartantoMenteri Luar Negeri Retno Marsudi memberikan keterangan pers terkait pembebasan dua WNI yang disandera kelompok bersenjata di kantor Kemenlu, Jakarta, Jumat (18/9). Retno menyatakan, dua WNI atas nama Ladiri Sudirman dan Badar telah dibebaskan dan diserahterimakan oleh Pemerintah Papua Niugini kepada Konsulat RI di Vanimo, Papua Niugini.

Ketua Tim Negosiasi dari Pemerintah Papua Niugini (PNG) Yan Jingga bersama aparat militer dan Konsul RI untuk Vanimo Elmar Lubis mengantar kedua WNI ke daerah perbatasan RI-PNG di Skouw Wutung pada pukul 13.00 WIT. Keduanya meneteskan air mata sambil memeluk para pejabat daerah. Badar tampak mengalami cedera pada kaki bagian kanan. Setelah proses penyerahan, kedua WNI dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk mendapat perawatan.

Media tidak diizinkan untuk mewawancarai kedua korban penyanderaan. Para wartawan langsung diarahkan untuk meliput proses penandatanganan berita acara penyerahan kedua WNI dari Konsulat RI di Vanimo ke Pemerintah Provinsi Papua. Kepala Badan Perbatasan dan Hubungan Kerja Sama Luar Negeri Provinsi Papua Susana Wanggai, Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayor Jenderal Hinsa Siburian, dan Kepala Polda Papua Inspektur Jenderal Paulus Waterpauw menerima langsung kedua WNI.

Susana mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah PNG yang telah berupaya maksimal membebaskan kedua sandera. "Kami mengapresiasi kinerja aparat PNG dan juga Konsul RI di Vanimo. Upaya pembebasan kedua WNI berjalan sukses," kata Susana. Sementara itu, Elmar mengatakan, proses pembebasan berlangsung pada hari Kamis (17/9) pukul 22.00 di Kampung Skouwtiau. "Tim negosiasi dari PNG berhasil membujuk kelompok itu untuk membebaskan Badar dan Ladiri Sudirman. Setelah itu, aparat PNG langsung mengantar keduanya ke kantor kami di Vanimo. Badar mengalami cedera, bukan karena disiksa anggota kelompok itu, melainkan hanya terjatuh," ujar Elmar.

Ladiri Sudirman dan Badar adalah penebang kayu yang bekerja pada perusahaan penebangan kayu di Skofro, Distrik Keerom, Papua, yang berbatasan dengan Papua Niugini. Mereka diserang kelompok sipil bersenjata lalu disandera saat sedang bekerja di wilayah Keerom.
(sumber : Kompas, 18 September 2015)

Saturday, August 29, 2015

Panduan Prajurit,Pesawat Angkut TNI Pengganti Hercules



Pesawat Angkut TNI Pengganti Hercules

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) akan memilih antara pesawat angkut A-400 Airbus dan C-17 Boeing sebagai pengganti pesawat Hercules C-130 sebagai pesawat angkut TNI. Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan Brigadir Jenderal TNI Djundan Eko Bintoro menjelaskan, pascainsiden jatuhnya pesawat Hercules Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu berencana membeli pesawat angkut baru. "Antara itu A-400 dan C-17 ya sekelas itu, jadi kalau kata Pak Menhan A-400 atau C 17," ujar Djundan, Selasa (7/7/2015).

http://nulisbuku.com/books/view_book/7216/strategi-sun-tzu-menangkan-pilkada

Menurut Djundan, pengadaan kedua pesawat tersebut sudah masuk dalam rencana strategi (renstra) II 2015-2019. Bila tidak ada kendala pada pesawat tersebut sudah diterima pada 2016 atau 2018 mendatang. (Baca: Pesawat Angkut Hercules Jatuh di Medan) Rencananya, pesawat tersebut akan ditempatkan di Skuadron 32 Abdul Rahman Saleh, Malang dan Skuadron 31 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. "Pesawat lebih besar, yang jelas itu baru, sekarang sudah disepakati kalau pengadaan mengutamakan yang baru, yang sudah terlanjur apa boleh buat tetap dilakukan," tutur Djundan.

Seperti diketahui, pesawat A-400 Airbus merupakan pesawat angkut militer yang juga bermesin empat turboprop. Begitu juga dengan pesawat C-17 Boeing. Pesawat ini sudah digunakan oleh sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Kepala Staff Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna mengakui sudah melakukan kajian terhadap adanya pesawat pengganti Hercules.

Menurut Agus, pihaknya sudah mengirimkan kajian tersebut kepada pemerintah, yakni Kementerian Pertahanan. Namun demikian, Agus menyerahkan keputusan soal pengadaan pesawat pengganti Hercules tersebut kepada pemerintah yakni Kemenhan. "Kami sudah buat kajian, tapi nanti tergantung dari pemerintah yah yang memutuskan," kata Agus usai menghadiri acara Buka Bersama dengan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (7/7/2015).

Dia menegaskan, pihaknya akan meminta jenis varian terbaru dari pesawat angkut kelas berat tersebut. Termasuk juga meminta pengadaan pesawat angkut yang baru itu dalam jumlah yang besar. Disinggung soal negara pembuatnya, Agus menandaskan ada banyak produsen. "Bisa saja dari Airbus ada, dari Amerika Serikat ada, dan dari Rusia ada. Tapi nanti semua tergantung dari pemerintah," kata Agus.